…#StoryofSa: Mimpi yang Berakhir…

A way to memorize you, Sa….

four years after you gone…

Finally,

I let them read it…

-She-

Pukul 03.16. Sudah pagi. Dan aku masih belum juga terlelap. Terjaga dalam gelap ruangan yang menyelimuti. Mataku terasa silau terkena cahaya layar komputer yang masih tetap menyala di depan wajah dan tubuhku yang telanjang.

Di belakangku, terbaring sebuah sosok tubuh lelaki. Lelaki jagoan yang sedang menikmati tiap hembusan dengkur halus dalam nyenyak mimpinya. Mungkin terlalu lelah. Atau tengah merasakan rileksnya tubuh setelah melepaskan hormon-hormon endorfin dari pergulatan yang kami lakukan tadi. Dan dia terus terlelap.

Mataku menerawang jauh seolah berusaha menembus layar di hadapanku. Berusaha mencari kepingan-kepingan yang tercerai dari seluruh kumpulannya, yang dengan susah payah kurekatkan kembali dengan lem-lem perekat ingatan.

Tiba-tiba saja seluruh otakku terpaku dalam gambaran-gambaran yang tak berhenti berputar. Tubuhku seperti mengejang kaku menahan perih dan tangis yang tak dapat keluar sebagai tangis. Terdiam. Tak lagi menantang cahaya layar yang menyilaukan, kutekuk kepalaku dalam benaman di antara kedua lutut yang mengapit.

Kuberanikan sedikit demi sedikit untuk menengadah. Menarik napas panjang tanpa suara. Perlahan menuliskan huruf demi huruf ke dalam layar. Jari-jariku berhenti sejenak. Mencoba merangkai seluruh kata yang mengamuk dalam kepala.

*

Dan mimpi pun berakhir.

 Aku hanya mampu duduk terpekur di samping sebuah tanah merah yang masih basah. Dalam diam tanpa tangis, memandang dengan tatapan kosong, sambil membelai halus bunga-bunga yang tertabur di atas tanah itu.

Mencoba mengingat. Membuka lipatan-lipatan memori di dalam kepala. Ada yang tak biasa yang kurasakan dalam detak yang tak beraturan. Mencoba terus bertahan menggali seluruh pendaman kenangan tentangmu, yang telah menyatu dalam gundukan tanah merah itu.

Aku melihatmu dalam balutan segala peralatan itu. Di perkenalan pertama kita, semua terjadi hanya dalam kebisuanmu yang tak lagi dapat membuka mata. Hanya suara mesin yang berdetak, menjadi penanda bahwa jiwamu masih di sana, di dalam tubuhmu.

Tak kudengar sepatah kata pun tersuarakan, kecuali dari suaraku sendiri yang terus menerus membisikkan doa-doa di sampingmu, di dekat telinga yang membisu.

Aku tak tahu harus bercerita pada siapa tentang rindu dan pedih ini. Rindu padamu yang tak pernah kukenal selain lewat cerita orang-orang terdekatmu. Pedih yang kurasakan karena harus bertemu denganmu dalam waktu yang kian terasa menghimpit. Waktu yang mengajak perang hatiku, yang menolak bahwa pertemuan kita hanyalah menghitung waktu mundur untuk kepergianmu selamanya.

Ah, semua menjadi terasa aneh. Tapi pedih, sakit.

Merindukanmu, tapi aku tahu, aku harus mengikhlaskanmu. Sama seperti orang-orang lain yang kau tinggalkan.

 

Tertulis sudah. Sedikit saja dalam rangkaian kata, kalimat, dan paragraf. Entah puisi atau hanya sekedar narasi, aku tak peduli.

Aku menatap layar sekali lagi. Memandangi tulisan itu dalam-dalam. Kubaca perlahan dalam hati, sambil menggenggam erat lutut yang tertekuk lemas. Merindukanmu, hanya kata itu yang terbaca terakhir.

Jagoan di belakang tubuhku menggeliatkan tubuhnya di atas hamparan kasur dan balutan selimut. Mungkin dia sedikit terganggu dengan suara-suara yang muncul saat aku menekan tombol-tombol huruf dari mesin ini. Sehingga, beberapa kali tubuhnya bergerak-gerak tiap kali tanganku terlalu lancar menari di atas keyboard.

Ah, tubuhku mulai kedinginan. Mungkin sudah saatnya berpakaian. Aku mengambil ceceran pakaian yang terlihat samar-samar. Entah tersebar di sudut mana celana dan bajuku. Kalau saja tadi terpikirkan bahwa akan sulit mencari dan meraba pakaianku, tentu aku akan berpikir beberapa kali ketika sang jagoan melucutiku, dan melemparkan pakaianku entah kemana, begitu saja.

Nyeri-nyeri yang kurasakan dari persetubuhan tadi mulai mereda juga. Tapi ternyata tak meredakan nyeri kecil namun kuat yang ada di dalam diriku. Ah, apa pula ini. Sudah cukup aku mengeluh tentang kesedihan yang kurasakan. Lebih baik begini. Bersenang-senang dalam luapan hasrat-hasrat sesaat yang begitu meledak-ledak. Tak perlu terlalu memikirkan apa yang ada di dalam hati, apalagi tentang cinta. “Seru!”, kata para remaja itu.

**

Adzan subuh sudah berkumandang. Jika aku mendengarnya kemarin pagi, tentu aku akan langsung mengambil air untuk bersuci, dan kemudian menggelar sajadah, memakai mukena, dan menghadap pada-Nya. Tapi di pagi ini, tentu saja aku tak bisa apa-apa selain terdiam mendengar suara muadzin itu melantangkan suara panggilan subuh.

Mengutuk diri telah melacur. Tapi segera kutepis perasaan dan pikiran bodoh itu. Yang kulakukan tidak berbeda dengan pasangan-pasangan “sesaat” lain. Begitu kilahku pada diri sendiri. Tak perlu merasa terlalu bersalah jadinya.

Ah, sang jagoan tetap saja terhanyut dalam lelap. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas dalam gelap, apalagi mataku terlanjur silau dengan satu-satunya cahaya dari layar ini. Aku hanya mendengar suara gesekan antara tubuhnya dengan kasur dan selimut. Ah, tubuhnya. Tubuh yang liat dan padat dengan otot-otot yang mengesankan setiap wanita. Aku tertawa kering dalam hati. Menggoreskan sebuah senyum dengan tarikan lebih tinggi di sudut bibir kananku.

Jagoan ini memang baru kukenal tadi pagi. Dan dengan segala sensualitasnya, yang memang harus kuakui dengan berat hati (tapi tetap setuju sepenuhnya), bahwa dia memang ‘seksi’. Tidak hanya tubuhnya saja, tetapi juga setiap detail tingkah lakunya, akan membuat wanita melayang begitu saja tanpa permisi. Dan dengan modal itulah, ditambah dengan minat bersenang-senangku yang sedang berada di puncak untuk membuang segal kusut dalam diri, maka di sinilah sekarang aku berada. Ruang berukuran 3×5 meter persegi, di depan layar komputer, dengan tubuh yang tadinya tengah bertelanjang dan dia yang masih terpekur dalam selimut yang menutupi tubuhnya yang juga tengah telanjang.

Pikiranku berkecamuk lagi. Menerawang lagi. Kembali pada hari pemakaman yang memuramkan itu lagi, hingga kini. Dan tak kuasa untuk menumpahkan kata-kata yang muncul dari rasa sesak, lagi.

 Aku tak mengerti. Kenapa aku harus terus teringat tentangmu, yang sebenarnya tak pernah ada dalam hari-hariku. Kenapa aku harus merasa sesak dengan dada yang membuncah karena menahan tangis tentangmu, yang tak pernah benar-benar kukenal dalam dunia nyataku.

Hingga akhirnya aku benar-benar melihatmu, di hari terakhir dirimu masih bisa menghembuskan nafas dengan bantuan segala tetek bengek peralatan yang menempel di sekujur tubuhmu. Hari terakhir!!!

Seandainya saja kamu tahu bahwa sore setelah kita bertemu dalam bisu ketidaksadaranmu, aku memimpikanmu. Sebuah cerita di mana aku kemudian dengan setia menemanimu, membacakan ayat-ayat suci itu untukmu di samping pembaringan, sampai akhirnya kamu dinyatakan bisa segera keluar dari bangunan berbau obat-obatan itu. (Ah, aku benci sekali tempat itu…)

Sebuah mimpi yang berlanjut dengan akhir cerita yang tetap menyedihkan, karena kamu yang tetap tak mampu bertahan melawan takdir sakitmu. Tapi, meskipun begitu, kamu telah sempat menitipkan benih yang akan menjadi penerus darahmu, di dalam rahimku, secara sah, dalam pernikahan yang disaksikan keluargamu.

Dan mimpi pun berakhir, Sadewa. Dan, mimpi pun berakhir.

Ketika pagi itu akhirnya tak ada lagi waktu untukku melihatmu, membisikkan doa di dekat daun telingamu, dan perlahan meraba genggaman tanganmu yang telah begitu melemah. Semua telah berakhir dengan setiap genggaman tanah yang ikut kulempar secara diam-diam di tanah pekuburanmu siang itu. Tanpa kata, dan dalam sembunyi, aku menaburkan bunga yang tersisa di dalam keranjang ke atas rumah abadimu.

Tak ada yang mengetahui kisah ini kecuali aku dengan diriku sendiri. Dan mungkin Sang Penguasa yang telah menentukan perkenalannku denganmu dalam setiap cerita yang kudengar dengan seksama, dan pertemuan kita yang singkat dalam segala diam.

Merindukanmu, lagi-lagi….

***

Tubuh seksi di belakangku menggeliat lagi. Kini setengah terbangun sepertinya. Dengan suara perlahan dia menyapaku.

“Belum tidur, Vie?” tanyanya.

“Sebentar lagi,” jawabku singkat.

File, save, my document, Vie, seratan.

Selesai sudah. Aku mengaktifkan kode rahasia folder pribadiku dalam komputer. Mengetikkan beberapa huruf, dan mematikan benda berteknologi ini.

Menyusup aku dalam hangat selimut, kemudian mendekap erat tubuh telanjang yang sudah berada di sana sebelumnya. Aku berusaha memejamkan mata.

Pagi Sa…, batinku menyapamu. Dan, mencoba melelapkan diri.

-tertulis: 22 Desember 2008-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *