…Kilas Balik 2011: A New Year After the Eruption…

Tahun 2011 buat saya tentu saja diawali dengan pergantian tahun, dari tahun 2010 menuju tahun 2011. Pergantian tahun kali itu, saya, entah kenapa, tidak tertarik untuk berhingar bingar. Mungkin karena pada masa itu, masih dalam masa-masa pasca (dan masih) tanggap bencana letusan Gunung Merapi. Seperti yang diketahui, bahwa pada akhir tahun 2010 daerah Jogja dan sekitarnya mengalami hiruk pikuk karena Gunung Merapi yang sedang punya “gawe” di atas sana. “Acara” nya Simbah Merapi kali ini memang cukup besar dan lama daripada beberapa kali “gawe” yang pernah ada sebelumnya. Tercatat, korban meninggal mencapai angka 100 orang. Bahkan, Mbah Marijan yang menjadi juru kunci pun akhirnya menyelesaikan abdi terakhirnya pada letusan kali ini.

Pasca letusan mereda, kesiagaan berikutnya disiapkan untuk menghadapi arus banjir lahar dingin. Besarnya gawe simbah merapi ini menghasilkan luapan material yang memang luar biasa. Bahkan sungai yang tadinya lebar dan cukup berjarak kedalamannya dari tebing sungai, berubah menjadi sebuah dataran material vulkanik. Saya sempat ikut wora wiri ikut-ikut membantu distribusi bantuan untuk para korban letusan dan korban lahar dingin bersama dengan beberapa komunitas. Ada komunitas dari temen-temen online (twitter, blogger, dan lainnya). Juga  dengan temen-temen dari Gelanggang UGM yang akhirnya saya bergabung ketika banjir lahar dingin menyerbu kawasan Code.

Beberapa hari menjelang pergantian tahun menuju 2011, saya belum memutuskan mau ke mana buat tahun baruan. Takutnya nanti udah terlanjur janji tahun baruan sama yang lain, tiba-tiba saya beride mau ke mana dan jadi harus batalin janji. Ya ya ya, saya memang tipe yang suka mendadak spontan impulsif gitu, ditambah lagi suka berubah-ubah pikiran, dan bingungan. :D

Semakin deket ganti hari, semakin bingung mau ngapain. Ada dua ajakan yang menarik. Naik gunung Lawu tanggal 1 paginya, atau tahun baru di sebuah dusun Stabelan di 3km dari puncak merapi bareng temen-temen dari Tlatah Bocah. Berbekal kenekadan pribadi dan keyakinan yang semena-mena, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat naik ke Stabelan tanggal 31 siang, dan berencana turun setelah tengah malam pergantian jam ke 2011, lanjut besok paginya naik ke gunug Lawu. Persiapan bawaan di carrier udah disiapin buat naik Lawu juga. Hahaha. Gak mau rugi pokoknya. Saya naik motor berdua dengan temen saya, menempuh jarak Jogja-Muntilan-Stabelan. Selama perjalanan saya milih buat ada di depan, yang bawa motornya. Dan temen saya yang notabene cowok ini, namanya Niam, berpasrah diri duduk di boncengan.

 

…para pemuda mendirikan layar tancep…

Perjalanan menuju Stabelan adalah luar biasa. Menemukan jejak-jejak sisa kejadian letusan Merapi yang sangat menonjol. Tumpukan abu yang tebalnya menutupi persawahan, menebalkan jalanan yang naik turun, dan menyelimuti daun-daun. Benar-benar masih kentara bagaimana besarnya kekuatan simbah Merapi. Sampai di dusun Stabelan sudah cukup gelap. Saya dan Niam sebenarnya enggak tau di mana tepatnya acara ini diselenggarakan. Kita berdua cuman berbekal kepedean berlebih, cari-cari keramaian. Hihihi… Akhirnya sampailah kami di rumah bapak dukuh. Acara belum dimulai, pun kami adalah tamu pertama dari luar kota sepertinya, beberapa menit sebelum rombongan mobil dan motor mulai berdatangan dari Jogja, Magelang, dan kota-kota sekitarnya yang lain. Persiapan dimulai dengan mendirikan layar tancep, untuk nonton filem dokumenter masa-masa rescue ketika Gunung Merapi meletus.

Selain acara senang-senang, ada juga seremoni yang isinya adalah doa-doa yang dipimpin oleh seorang yang dipercaya sebagai tetua di dusun tersebut,  disertai potong ingkung ayam dengan nasi jagung. Sang pemimpin doa menyalakan api dalam batok yang isinya berbau seperti kemenyan, kemudian lampu dimatikan. Dalam terang api kecil dari batok itulah, sang pemimpin doa menggumamkan doa-doa yang intinya memohon keselamatan pada sang empunya alam, terutama berkaitan dengan ‘gawe’ sang simbah Merapi. Setelah mantra doa selesai dirapalkan, dipotonglah ingkung yang sangat besar dan pembagian nasi jagung kepada hadirin yang ada di tempat tersebut.

Seremoni lainnya adalah sebuah tarian yang dipersembahkan pada Gunung Merapi, bercerita tentang kejadian-kejadian di gunung. Dengan penerangan obor, penari-penari menggeliatkan tubuhnya mengitari sebuah gundukan tanah yang sudah dibentuk sedemikian rupa menyerupai gunung. Para tamu dan penduduk sekitar dipersilahkan ikut menari di akhir tarian tersebut. Dinginnya malam, dekatnya gunung, nyala obor, membuat tarian ini tampak mistis bagi saya, sekaligus sangat menarik hati untuk ikut meliukkan tubuh. Sayangnya, saya cukup malu saat itu untuk ikut bergabung menari.

Hehehe…Acara malam itu menyenangkan sekali bagi saya. Melihat penduduk berjubelan datang dan berkumpul bersama, menikmati kesenian tarian diiringi gamelan dari bapak-bapak yang bahkan sudah sepuh beberapa diantaranya, juga menonton layar tancep. Seru, ih.

Selesai seluruh rangkaian acara, tamu yang akan menginap dipersilahkan untuk “klekaran” sesuka hati di rumah pak dukuh yang sekaligus jadi pos dan venue acara. Tapi ada juga api unggun yang sudah disiapkan bagi mereka yang ingin menghangatkan tubuh, juga sambil bercengkerama dalam dinginnya gunung. Suasana kehangatan nampak sekali. Saya sempat berkenalan dengan beberapa teman baru yang ternyata juga datang dari Jogja. Ditemani teh hangat dan cemilan kami mengobrol hingga tengah malam, semakin merapat pada api unggun yang menjadi satu-satunya sumber panas malam itu.

Dan….lupa sudah rencana saya untuk turun ke kota dan kembali ke jogja, supaya besok paginya bisa ikut naik ke Gunung Lawu dengan beberapa temen dari komunitas Cahandong. Ketika teringat pun, akhirnya saya memutuskan untuk bertahan hingga pagi hari. Karena kondisi medan perjalanan yang kayaknya akan sangat menyeramkan untuk melintasinya malam-malam begitu dengan naik motor. Salah-salah malah tersesat nanti.

…hasil jalan-jalan pagi…

Pagi hari, sebelum terang, sebelum subuh, beberapa orang termasuk saya dan Niam memutuskan untuk mulai naik ke area ladang yang berada di atas desa, dengan jalan semakin memuncak, mendekati Merapi. Melihat-lihat kondisi ladang dan jalur yang tampak berantakan terkena abu merapi. Mencoba melihat puncak merapi yang masih tertutupi awan. Dan, tentu saja mengambil foto-foto yang menarik di sana. Ah, dalam kondisi begitu, kamu akan merasakan betapa kecilnya manusia ini, dibandingkan alam semesta yang ada di seluruh jagad raya ini. Betapa manusia benar-benar harus hidup berdampingan dengan alam. Juga, betapa besar kekuasaan pemilik dunia ini.

Maka, inilah, sebuah tahun baru penuh makna bagi saya. Juga sebuah petualangan yang menyenangkan, bersama Niam dan beberapa teman baru yang saya temui di sana. Terima kasih Stabelan, terima kasih Tlatah Bocah. Tahun baru kali ini, menuju 2012, entah saya akan ada di mana. :)

…Tahun Baru Stabelan…New year stabelan

Eh, gimana sama Lawu? Saya belum jadi naik ke sana. Hingga detik ini. Semoga tahun depan saya bisa ke sana. Hahahaha.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *