#1-2017

8039eda5be7be161cca229c18d4d1352

It’s about life, it’s about future, they said.
sementara itu aku mengepak barang-barangku; tasku dan seluruh jubah yang ada di lemari; kemudian berjalan dari luar ruangan, kembali ke jalanan.
aku menghembuskan nafas panjang dan berusaha melacak kembali apa saja yang terjadi padaku di setengah tahun ini.
setengah tahun pertama dari tahun 2017.
setengah tahun yang tak terasa telah membolak-balikkan keadaan dalam rentang waktu yang singkat, tanpa tanda, tanpa sinyal apapun yang membuatku bisa bersiap menghadapi badai-badai yang direncanakan tuhan untukku.
ini perjalanan, seperti mereka bilang, dan seperti apa yang sudah seringkali kukatakan pada diriku sendiri.
tapi perjalanan seringkali diisi dan didekap oleh desakan-dan-sesakan hal-hal yang membaui udara, membuat pengap di nafas.
aku terus berjalan gontai, berusaha mempercayai arah langkahku akan membawaku pada suatu titik yang lebih baik nantinya.
menggiring tas dan jubah-jubah adalah pekerjaan yang tak mudah di tengah hawa panas yang menyengat tapi kemudian hujan bisa saja turun tiba-tiba tanpa ada rencana.

sekelilingku dipenuhi kendaraan lalu-lalang yang membunyikan klakson-klakson dan terus saja saling memaki karena himpitan jalan yang semakin menyempit, mereka bilang. tanpa pernah sadar bahwa jalanan tak menyempit (hei, bung!), tapi dirinyalah yang terus melipatgandakan sejarah klakson yang menggema di ruang-ruang sudut bangunan dan rumah di kota dan di desa.

aku duduk. diam. dan tak pernah berusaha menengok ke belakang. entah sudah berapa langkah yang kujejakkan untuk kemudian aku menghela napas sebentar, dan kemudian berjalan lagi.

ini sudah tak bisa lagi dihentikan. aku terekam dalam gilingan roda yang terus berputar entah sampai mana, entah sampai kapan.
aku sedang tak berusaha ingin menerkanya. jika saja tak ada tuan puan yang berusah mengendalikan laju roda, maka kupikir tak ada lagi yang perlu dikendalikan.
biarlah dia begitu saja.

Andai saja semuanya sudah dapat dibayangkan sebelumnya. sedangkan kini aku berakhir di sebuah meja kecil dengan sebutan “gemini girl”, katanya kepadaku.
tapi aku mengingat kembali setengah tahun yang jahanam dalam hidupku.
jahanam? mungkin iya. tapi juga mungkin tidak tepat. aku tak pernah bisa mengetahuinya. bukankah tuhan selalu mengirimkan jawaban dari sebuah misteri di belakang akhir halaman?
jika saja semuanya bsa dibayangkan sebelumnya.
maka tak ada seruan-seruan yang bisa diteriakkan, bukan?
aku tak memaki tuhan, tentu saja. tak seperti aku sedang merutuk nama-nama yang membuatku kesal dan menjejalkan mereka dalam rapal mantra yang tak ingin kusebutkan supaya ia tak menjadi benar atau nyata.
ya, biar saja semuanya mengalir dalam roda. begitukah katamu?
aku mengingat ada guguran bunga kuning di jalanan. tapi juga mengingat lagu-lagu mendayu tentang ruang-ruang tersembunyi dan tertutup dan menyanyikan lagu di dalamnya. kita tak lagi berdansa di ruangan, bukan?

ibuku terbaring lemah di saat itu. dan tak kuketahui di mana aku bisa mencari kekuatan untung menopang apa yang sedang terjadi dalam gledek roda menuju ruang operasi.
tuhan besertamu dan besertamu juga. itu saja yang kuingat. yang mampu meluluhkan hatiku sepulangku dari timur. aku tak menduganya. tak pernah menduganya.
sehingga ketika ia datang kembali dalam bentuk tuhan yesus maupun bunda maria, atau allah yang esa, akü hanya ingn berdoa. mungkin berharap tak pernah ada ketidak tulusan menyertai di dalam setiap langkah kita. maka, tuhan besertamu, dan besertamu juga.

ini tak dapat lagi dihentikan. tak lagi bisa. begitu katamu. tapi aku juga tak sedang menghentikannya. begitupun udara sesak yang terus memenuhi ruang hampa di sudut-sudut kota.
ah, pengulangan yang sesekali adalah terus saja menjadi pengulangan berulang kali.
kamu di mana?
aku tak tahu.
sedangkan aku tak pernah berhenti. terus saja berjalan menggeret tas-tas dan jubah-jubahku. untung saja kali ini tak ada topeng-topeng yang perlu dibawa, atau dikenakan. mungkin lelah. mungkin sudah lelah.
maka, kamu ada di mana?aku tidak tahu.

ini terus saja tak dapat dihentikan. gelinding rodanya terus melaju seperti aku tak dapat menghentikan ingatanku mengalir membelah jalan-jalan di bali menuju ubud. aku tak tahu ia akan berujung ke mana. tapi ubud? bukankah ada seribu monyet di sana? sementara ada perhelatan besar di ujung roda, tak ada lagi yang bisa dihentikan sekarang. tak ada yang bisa. maka ia telah menghilangkan senyuman palsu dari seribu wajah-wajah seok di jalanan. jangan berhenti. jangan pernah berhenti. tas-tas semakin membesar dan jubah-jubah semakin memberat. mungkinkah hujan akan turun?
entahlah.

ia gegap gempita. ia gegap. menggugup gempita. menarik napas. tarik. jangan dihembuskan perlahan. dan kulit yang meregang dari bulu-bulu dan pori-pori yang terus membengkak. ini tak dapat lagi dihentikan. buat apa dihentikan. tak bisa lagi dihentikan. aku menyerah? benarkah?
maka kamu ada di sana? aku tak tahu. aku hanya terus berjalan mengejamkan kata-kata dan aku tak bisa lagi berhenti. buat apa berhenti. lalu ke mana? aku tak tahu.

jeda.

panjang.

hampir saja berhenti di dalam kegelapan. tersesat. tapi aku terus berjalan. buat apa berhenti?
tak bisa lagi dihentikan.

menghitung kata. supaya kembali sadar. ada regang kulit yang seperti ingin melepaskan diri.

berhenti.

jeda.

bercakap.
aku memintanya bersuara, supaya aku tak tersesat.

mungkin cukup dulu untuk sementara. aku tak boleh lagi tersesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *